Ingkarus Sunnah

Menolak Sunnah Membuang Al-Qur’an 

Indonesia merupakan lahan subur tumbuhnya berbagai aliran pemikiran nyeleneh. Salah satunya adalah ingkarus sunnah. Hartono Ahmad Jaiz menyatakan bahwa tahun 80-an mulai berkembang sebuah aliran ‘baru’ yang meresahkan. Kelompok kajian ini sering menyebut sebagai Qurani. Sebenarnya lebih tepat disebut sebagai ingkarus sunnah, alias pengingkar sunah. Paham ini sebenarnya bukan barang baru. Meski sebagai kelompok belum pernah ada, namun secara pemikiran telah ada sejak awal perkembangan Islam.

Pengajian itu sempat ramai digelar di beberapa tempat di Jakarta. Kala itu, mereka sempat menguasai beberapa masjid di wilayah ibu kota. Di antaranya masjid Asy-Syifa di RSCM. Di proyek pasar rumput Jakarta Selatan muncul juga kajian serupa. Awalnya tidak terlalu aneh. Namun setelah beberapa lama baru terlihat keanehannya. Di antaranya mereka tidak mau menggunakan adzan dan iqamat dalam shalat. Alasannya keduanya tidak terdapat dalam Al-Qur’an, kata mereka. Bahkan seluruh shalat dijadikan dua rakaat. Pengikut aliran inipun tidak mau berpuasa di bulan Ramadhan, kecuali mereka yang langsung melihat bulan. Berdasarkan pemahaman mereka terhadap ayat “Karena itu barangsiapa di antara kamu hadir di negeri tempat tinggalnya di bulan itu maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (Al-Baqarah:185)

Akhirnya tidak ada yang mau berpuasa pada bulan Ramadhan, karena tidak ada yang melihat bulan. Itulah akibat mengingkari hadist Rasulullah.

Pandangan Khawarij

Khawarij adalah firqah (kelompok) pertama yang muncul di tengah umat Islam. Terjadi pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan. Kemudian di masa Ali bin Abi Thalib mereka memisahkan diri. Keluar dari jama’ah kaum muslimin dan membentuk komunitas di sebuah daerah yang bernama Harura. Salah satu kesesatanmereka adalah dalam memahami Al-Quran. Akibatnya mereka mudah mengkafirkan kaum muslimin yang berbuat dosa. Sebelum perang Jamal mereka mengakui seluruh shahabat sebagai orang yang adil. Setelah itu mereka mengkafirkan para shahabat yang terlibat perang. Karena itu mereka tidak menerima hadits Nabi yang berasal dari shahabat tersebut.

Mu’tazilah

Dikalangan ulama terjadi polemic mengenai pandangan Mu’tazilah terhadap As-Sunnah sebagai dasar syariat. Ada juga yang menganggap Mu’tazilah menolak seluruh As-Sunnah sebagai dasar syariat. Ada juga yang mengatakan penolakan mereka sebatas pada hadist ahad. Al-Amidi mengutip pandangan seorang tokoh Mu’tazilah, Abul Husein Al-Bashri. Menurutnya, secara rasional ibadah berdasar hadist ahad wajib diamalkan. Sementara menurut Al-Juba’I, secara rasional ibadah berdasarkan hadist ahad justru tidak dibenarkan. Bagaimanapun, kedua pemahaman ini menyelisihi metode shahabat Nabi yang menetapkan hukum atas dasar hadist ahad.

Al-khudari menyimpulkan dari pendapat Syafi’I dan Musthafa As-Sibbai, bahwa Mu’tazilah menolak seluruh hadist. Sementara itu Dr. Mustafa Al-A’zhumi menyatakan bahwa Mu’tazilah tetap mengambil hadist-hadist Nabi. Hanya saja hadist yang bertentangan dengan kaidah piker mereka ditolak.

Penentang Sunnah

Dalam kajian histories, sampai abad kedua hijriah belum pernah muncul individu atau kelompok yang mengaku Islam tetapi menolak sunnah. Lenyapnya daulah islamiyah yang diiringi munculnya fitnah di kalangan umat Islam. Penjajahan oleh orang kafir tidak hanya secara fisik, namun juga pemikiran. Hal ini tentu agar tonggak-tonggak ajaran Islam melemah. Pada kondisi demikianlah, muncul penentang-penentang sunnah di berbagai belahan negeri. Nereka adalah orang-orang yang telah dididik oleh pengajar kuffar.

Di Mesir, fitnah penentang sunnah muncul pada masa Muhammad Abduh. Di antaranya adalah Mahmud Abbu Rayyah dengan bukunya Adhwa’u alas Sunnatil Muhammadiyah. Kemudian diikuti Dr. Taufik Sidqi yang menyodorkan artikel berjudul Al-Islam Huwal Qur’anu Wahdah (Islam Cukup Hanya dengan Al-Quran). Ahmad amin menulis dalambukunya Fajrul Islam (1929), satu bab yang berisi tentang syubhat yang dimunculkan tentang sunnah. Ia mencampur adukan yang haq dan yang bathil.

Tahun sebelumnya, Ismail Adham (1352 H) menolak keshahihan kitab Bukhari dan Muslim. Tanpa secuil bukti bahwa ia menyatakan  bahwa kedua kitab tersebut penuh dengan hadist-hadist palsu.

Rapuhnya Argumentasi Para Penentang

Para penentang sunah zaman moderen biasanya mempermasalahkan hasil uji suatu hadist Nabi. Mereka menganggap kaum muslimin tidak memiliki standar penilaian hadist. Dari sini mereka meragukan keontentikan hadist nabawi. Tentu saja ini hanya isapan jempol belaka. Para ulama, khususnya yang menekuni bidang hadist, telah meletakkan kaidah yang jelas dan ketat dalam bidang kritik hadist.

Para ahli hadist menilai sunnah berdasar dua sisi, yakni sanad (jalur periwayatan) dan matan (isi). Untuk menntukan nilai sanad hadist berdasarkan pada kualitas periwayat dalam menyampaikan kabar. Kualitas periwaya pun dilihat dari dua factor. Pertama, kejujuran rawi (periwayat). Ini didasarkan pada perjalanan hidup, kebaikan akhlak dan perilaku rawi. Factor ini disebut dengan ‘adalah.  Kedua, kekuatan daya ingat dalam meriwayatkan hadist, berupa hafalan atau kualitas sumber rujukan. Factor ini disebut dengan dhabth.

Menentukan nilai matan hadist didasarkan pada kualitas kandungan hadist. Dalam hal ini pun para ulama hadist telah bersungguh-sungguh dalam menelitinya. Semoga Allah membalas amalan mereka dengan kebaikan. Atas jasa merekalah sekian banyak hadist palsu dapat terdeteksi.

Wajib Memegangi Sunnah

Dalam terminology ahli hadist, As-Sunnah berarti semua yang bersumber dari Nabi. Hal ini meliputi perkataan, perbuatan, taqrir (penetapan) dan sifat tubuh serta ahklak. Dari situlah diambil sumber syariat sebagai patokan hokum bagi umat Islam. Sedangkan hadist bisa dikatakan sama dengan sunnah.

Berpegang pada sunnah Nabi merupakan keharusan. Dalam banyak ayat Allah memerinyahkan yang demikian itu.

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-NYa maka sungguhlah dia telah sesat,sesat yang nyata.” (Al-Ahzab:36)

Dalam surat Al-Hujurat ayat I, Ali Imran ayat 32 dan An-Nisa ayat 79-80 pun dinyatakan hal yang semakna.

Rasulullah pun dalam banyak hadist sering memberikan ajakan kepada umatnya untuk berpegang teguh kepada sunnah beliau, di samping Al-Quran.

“Aku tinggalkan dua perkara yang apabila kalian berpegang teguh pada keduanya maka tidak akan sesat selama-lamanya yaitu Kitabullah dan Sunnahku. Keduanya tidak akan berpisah sehingga mendatangiku di surga (al-Haudh).” (Hadist riwayat Muslim)

Kewajiban mengikuti sunnah nabi mencakup masalah akidah maupun hukum-hukum. Setiap hadist yang memang secara ilmiah terbukti shahih harus diikuti. Hal itu berlaku baik bagi hadist mutawatir maupun ahad. Walhasil, mengakui Al-Quran harus disertai dengan mangakui A-Sunnah. Mengingkari sunnah Nabi Muhammad berarti mengabaikan Al-Quran.

Catatan:

Hadist Mutawatir : Berita dari Rasulullah yang disampaikan secara bersamaan oleh orang-orang kepercayaan, dengan cara yang mustahil mereka bisa bersepakat untuk berdusta.

Hadist Ahad : Hadist yang tidak mencapai derajat mutawatir

Sumber :

  • Kedudukan As-Sunnah dalam Syariat Islam, Ustad Yazid Abdul Qadir Jawas
  • Paham Sesat di Indonesia. Hartono Ahmad Jaiz 

Diketik Ulang : Majalah Nikah Edisi 6/I/2002 hal 28-30

One thought on “Ingkarus Sunnah

  1. Sunnah Nabi dan firmah Allah dalam Al quran selalu berdampingan. Penjelasan yang tidak ada di Al quran akan lebih jelas di hadist nabi. Jadilah orang muslim yang selalu mengigit erat sunnah nabi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s