Anti PHK

“Dengan sangat menyesal, Saudara terpaksa kami PHK,” kata seorang pimpinan pada anak buahnya. Bawahan itu pun lemas, tidak bisa berkata apa-apa. Tidak disangka, ternyata dirinya termasuk yang diberhentikan. Kalau sudah begini, menyesal tidak ikut nasihat temannya dulu. Cari ‘pengasihan’ biar disayang boss, tentu takkan di-PHK.

Sekarang terbukti, benar juga kata temannya itu. Dia masih berstatus karyawan di bekas perusahannya. Padahal, mereka berdua masuk bersama-sama, senasib seperjuangan. Bahkan, prestasinya juga tidak terlalu menonjol, biasa-biasa saja. Namun sekarang lain ceritanya, dia tidak kehilangan pekerjaan. Malah, mungkin akan naik jabatan.

Tak Sesulit Dulu

Mungkin gambaran di atas pernah terjadi di antara kita, teman, atau saudara. Namun semoga saja, kita dapat menghadapinya dengan tabah dan mencari jalan keluar yang sesuai syariat. Di kala manusia di uji dengan cobaan dan kesempitan, seringkali iman terlepas atau tak diperhatikan. Ujian yang menyebabkan beban hidup terasa berat, membuat putus asa, dan lupa terhadap agama.

Kehilangan pekerjaan memang bukan hal yang ringan. Hidup di dunia  memerlukan kebutuhan pokok yang sebagian besar hanya dapat dicukupi dengan uang. Kalau penghasilan tidak ada, ditambah lagi harus menghidupi istri dan anak-anak, terasa hidup sangat menyesakkan dada. Apalagi seiring perkembangan zaman, rasanya semakin susah saja, semuanya harus dengan imbalan.

Bagi para petani di pedesaan, kena PHK jauh dari pikiran. Tapi bagi para karyawan swasta, itu bukanlah suatu yang langka. PHK memang tidak pandang bulu, tergantung kesehatan perusahaan. Kalau perusahaan sekarat, bukan hanya pegawai rendahan yang dapat surat tamat, para manajerpun dapat. Oleh karenanya, banyak orang yang mulai mencari tindakan pencegahan, sedia payung sebelum hujan.

Seperti hukum ekonomi bilang, ada permintaan ada barang. Sayangnya, cara yang dicari dan ditawarkan merupakan cara klasik dan sulit dilogika. Sudah begitu, ternyata melanggar syariat agama. Bahkan merupakan dosa yang tidak diampuni oleh Allah.

Pelet, pengasihan dan jimat yang bertujuan untuk menyebabkan orang lain lebih sayang, memang sudah ada sejak zaman nenek moyang. Bedanya, zaman dulu agak susah mendapatkannya. Harus pakai lelaku dan syarat tertentu. Atau harus pergi ke tempat yang angker, di pedalaman untuk ketemu dengan orang pintar. Tidak semua orang mengetahui peyedia jasa haram ini.

Namun sekarang, sangatlah mudah menemuinya. Betapa tidak? Iklan di berbagai media massa bertebaran di mana-mana. “Sedia: sabuk pengasihan, susuk, kalung pelet, parfum, atau pengisian diri dengan mahar seiklasnya.” Itu beberapa bentuk slogan dan penawarannya. Bahkan, di televisi sudah ada acara yang ikut memasarkannya. Baik alamat praktik, maupun gambaran ritual disertai penjelasan logisnya.  Na’udzubillah! Acara syirik memang banyak digemari. Jadi, jika seorang mau musyrik, tidak perlu bersusah payah. Cukup lihat TV atau baca Koran, mempercayainya, atau kemudian mendatanginya.

Pengasihan=Kesyirikan

Ibnu Mas’ud menuturkan bahwa ia mendengar Rasulullah bersabda,

“Sesungguhnya ruqyah, tamimah, dan tiwalah adalah syirik.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Ruqyah adalah jimat atau jampi-jampi, namun tidak semua diharamkan. Tamimah adalah penangkal yang biasanya dikalungkan dileher anak-anak untuk mengusir penyakit ‘ain. Sedangkan tiwalah adalah sesuatu yang dibuat dengan keyakinan dapat membuat seorang istri mencintai suaminya dan membuat seorang suami mencintai istrinya (dalam istilah umum dikenal dengan pelet, susuk, atau ajian pengasihan dan lain-lain).

Pengasihan, apa pun bentuknya, yang bertujuan agar seseorang lebih menyayangi dirinya merupakan jenis tiwalah. Tiwalah ini termasuk salah satu jenis sihir, yang merupakan bentuk tipu daya jin pada manusia, sehingga manusia tidak sadar telah tergelincir dalam kedzaliman besar. Kedzaliman terhadap Pencipatanya, disebabkan dia telah melanggar larangan terbesar-Nya. Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia tel;ah berbuat dosa yang besar.” (An-Nisa : 48)

Bahwa pengasihan dan semisalnya merupakan kesyirikan, adalah sesuatu yang tidak samar. Karena ada dalil lain yang memperkuatnya. Sudah bukan rahasia lagi dan telah umum diketahui, agar bisa mempunyai atau mempelajari pelet perlu guru atau perantara. Sejak zaman dulu, perantara ini dikenal dengan dukun istilah umumnya, dan paranormal istilah halusnya, atau orang pintar sebutan penghormatannya.

Dukun inilah yang menjadikan anak buah para jin yang diberi kemampuan Allah untuk memelet atau menyihir. Dukun pula yang punya andil besar menyesatkan manusia. Dukun inilah yang menyebabkan banyak orang pintar yang sebenarnya, menjadi orang bodoh di hadapannya. Juga, dukun inilah yang menggiring orang yang kesusahan sementara karena kehilangan pekerjaan, menuju kesusahan yang lebih besar dan lama tak terkira.

“Barangsiapa mendatangi tukang ramal atau dukun, lalu mempercayai apa yang diucapkannya, maka sesungguhnya ia telah kafir (ingkar) dengan wahyu yang diturunkan kepada Muhammad.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’I dan Ibnu Majah)

Ujian adalah suatu hal yang biasa dalam kehidupan, dengan kadar yang berbeda-beda tiap orang, dan tergantung tingkat keimanan. Seorang muslim harus dapat menerima dan menghadapinya. Menghadapi dengan kaidah-kaidah syar’I, bukan cara-cara yang dimurkai. Berusaha dan berdoa agar cepat dientaskan dari cobaan.

Bila di-PHK, janganlah patah semangat dan kehilangan gairah hidup. Cari kerja yang halal lainnya, hubungi teman-teman atau handai taulan untuk membantu mencari sumber penghidupan yang lain. Atau sebelum di-PHK, rintis dahulu usaha secara kecil-kecilan, supaya ada calon tumpuan. Yang terpenting tetaplah bertakwa, sehingga Allah akan membukakan pintu rezeki dari arah yang tak disangka-sangka.

Sumber :  – Cara Mudah Memahami Tauhid (At-Tibyan)

                  – Kitab Tauhid (Gema Insani Press)

                  – Majalah Nikah Vol. 2 No. 11, Februari 2004,

                     hal. 24-25

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s