Mendengkur dan Kesehatan

Tidur dengan mendengkur, sudah menjadi hal yang biasa dan dianggap sepele oleh kebanyakan orang. Bahkan mengesankan kalau orang yang tidur mendengkur, berarti pulas tidurnya. Tetapi sebenarnya, apa penyebab ‘suara khas’ pengiring tidur yang kadang ‘mengganggu tetangga’ itu? Selain membuat berisik, apakah suara itu juga berhubungan dengan kesehatan seseorang?

Beberapa Penyebab

Menurut data yang layak dipercaya, mendengkur diderita oleh satu dari lima orang dewasa. Penyebab mendengkur, kata Prof. Hendarto Hendarmin, dokter ahli THT di Jakarta, bermacam-macam. Bisa karena kelainan anatomi hidung (septum deviasi), adanya sumbatan oleh polip, atau alergi yang menyebabkan selaput lender membengkak sehingga penderita harus bernafas lewat mulut. Mendengkur bisa juga dialami anak-anak, dan biasanya akibat pembesaran amandel dan adenoid yang ada di belakang hidung.

Yang jelas, adanya dengkuran itu menandakan terjadinya penyumbatan di saluran pernafasan saat seseorang sedang tidur. Suara dengkuran berasal dari usaha udara untuk melewati salauran udara yang menyempit itu.

Adapun prosesnya, selama tidur, otot -termasuk otot pernafasan- menjadi lebih rileks dibandingkan pada saat terjaga. Pada sebagian orang keadaan ini tidak menjadi masalah. Namun pada beberapa orang, terutama yang berusia lanjut, otot yang rileks membuat saluran nafas menyempit dan mengakibatkan penyumbatan.

Kondisi di atas makin diperparah lagi apabila penderita dalam posisi tidur terlentang, sehingga lidah yang melemas jatuh ke belakang. Maka terjadi penyumbatan seperti leher botol. Getaran akibat turbulensi udara pada bagian lunak faring karena tekanan negative di jalan pernafasan saat tidur itu muncul sebagai dengkur.

Macam-macam Dengkuran

Dengkuran bisa dibedakan atas beberapa jenis. Ada dengkuran ringan, dengan suara halus dan berlangsung terus-menerus. Ini biasanya terjadi pada fase awal tidur dan umumnya merupakan tanda kelelahan.

Jenis lainnya adalah dengkuran keras, terputus-putus, serta diikuti hentakan nafas yang dalam. Dengkuran macam inilah yang patut diwaspadai karena gangguan nafas jenis ini beresiko merusak organ-organ vital.

Sebagai gambaran, di Amerika Serikat diperkirakan 10 – 30% orang dewasa mendengkur. Dari jumlah itu, 5 % penduduk AS memiliki kebiasaan mendengkur yang keras saat tidur itu menandakan ada masalah kesehatan yang serius. Kebanyakan 5 % penduduk itu berjenis kelamin pria, berusia lebih dari 40 tahun, dan memiliki berat badan berlebih.

Yang patut diwaspadai adalah jenis dengkuran keras sampai-sampai terdengar keluar kamar. Dengkuran ini biasanya terputus beberapa saat, kemudian dilanjutkan dengan nafas yang terdengar seperti dihentakkan.

Kalau terjadi situasi semacam itu, berarti secara periodic orang tersebut berhenti bernafas. Nafas yang dihentakkan, merupakan mekanisme pertahan tubuh terhadap resiko rendahnya kadar O2/CO2 dalam darah. Keadaan ini menyebabkan kualitas tidur tidak memadai dan sering dikeluhkan penderita sebagai insomnia.

Dalam istilah kedokteran, pola dengkur-henti nafas ini sering disebut Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS) atau gangguan nafas obstruktif saat tidur.

Gejala-gejala khas OSAS diantaranya sering berganti posisi tidur, mimpi tercekik atau mimpi buruk. Penderita OSAS sering terbangung pada malam hari dengan jantung berdebar. Saat bangun pagi, biasanya penderita merasa tidak cukup tidur atau kurang segar. Selain itu, penderita juga bangun pagi dengan ringkuh, serba salah, mulut kering dan sakit kepala.

Bisa Menyerang Anak

OSAS bisa juga menyerang anak-anak dengan berat badan berlebihan atau yang menderita pembesaran amandel. Seperti orang dewasa, OSAS juga ditandai dengan mendengkur. Gejala lain OSAS pada anak adalah suara nafas yang sulit atau pola ‘tidur-jaga’ yang tidak teratur.

Pada remaja, OSAS ditandai dengan rasa kantuk yang berlebihan pada siang hari dan prestasi sekolah memburuk. Para penderita muda ini sering dicap sebagai anak lamban atau malas.

Penderita mengeluhkan akan rasa kantuk yang berlebihan, bahkan sampai taraf mengganggu. Penderita bisa tertidur di tempat umum, saat mengobrol, rapat, saat duduk di kursi, bahkan saat ketika menunggu lampu lalu lintas berganti hijau.

Gangguan konsentrasi dan kecendrungan menjadi pelupa merupakan akibat rendahnya kualitas dan kuantitas tidur. Perubahan tingkah laku seperti mudah tersinggung, marah, agresif, pencuriga, cemas, dan depresi sering menyertai gangguan tidur kronis pada penderita OSAS. Selain itu sekitar 28% penderita OSAS mengeluhkan penurunan hasrat seksual. Pada kamum pria, OSAS menjadi penyebab penting penurunan kemampuan ereksi (impotensi)

Pada keadaan normal, tekanan darah dan frekuensi detak jantung saat tidur lebih rendah daripada saat terjaga. Namun pada penderita OSAS justru terjadi hal yang sebaliknya. Sehingga terjadi beban tambahan terhadap kerja jantung. Keadaan ini sering dihubungankan dengan terjadinya serangan jantung saat orang tidur malam hari.

Saat penderita OSAS tidur, pasokan oksigen ke jantung menurun (karena adanya gangguan pernafasan), sedangkan kebutuhan otot jantung akan oksigen naik akibat tekanan darah dan frekuensi detak jantung yang meningkat.

Ada kecenderungan penderita OSAS meninggal akibat penyakit jantung dan pembuluh darah. Berdasarkan penelitian pada tahun 1995 oleh Lavie, 45% penderita OSAS meninggal karena penyakit jantung dan pembuluh darah.

Jauhi Penyebab

Penelitian lain oleh Koehler dan Schafer (1996) menyimpulkan, 35% penderita jantung koroner menderita OSAS. Malahan Rangermark dkk, (1995) menyatakan, pada penderita OSAS terjadi penurunan aktivitas penghancuran bekuan darah, sehingga makin mempertinggi resiko terjadinya penyakit koroner atau penyakit vaskuler otak. (Kompas, 30 Maret 1997).

Henti nafas pada penderita OSAS juga menghambat pasokan oksigen ke otak. Akibatnya, sel-sel otak kekurangan oksigen. Kondisi terburuk adalah kematian sel-sel, sama seperti stroke.

Dilaporkan oleh Palomaki dkk. (1989), 41,9% serangan stroke terjadi saat tidur, dan sekitar 70% dari penderita tersebut adalah orang dengan kebiasaan mendengkur.

Berdasarkan keterangan di atas, boleh dikatakan mendengkur merupakan indikasi penting dari adanya gangguan nafas saat tidur. Namun, bila anda mendengkur dan merasakan sebagian dari gejala OSAS, jangan panic. Pengobatan masih bisa diusahakan.

Langkah pertama tentu adalah mencari tahu apa penyebabnya. Untuk itu anda bisa berkonsultasi dengan dokter. Apabila itu akibat amandel, bisa ditangani dengan operasi. Sementara kalau itu karena masalah kegemukan, maka penurunan berat badan sebanyak 10% sudah dapat melegakan nafas anda saat tidur. Hal ini diperlihatkan oleh oleh frekuensi henti nafas yang makin jarang, tidur lebih lelap dan berkurangnya rasa kantuk pada siang hari. Disarankan agar para pendengkur tidak mengkonsumsi minuman beralkohol biarpun kadarnya rendah, terutama dua jam sebelum tidur.

Alcohol menekan pusat nafas di otak, sehingga OSAS semakin berat. Obat tidur juga berakibat sama buruknya dengan alcohol bagi pendengkur. Sementara obat-obatan untuk penghilang rasa cemas, sakit kepala atau flu sering kedapatan mengganggu nafas saat tidur.

Kalau penyumbatan nafas akibat rokok atau alergi, maka berhentilah merokok atau jauhkan penyebab alergi. Kalau mendengkur hanya akibat tertutupnya jalan pernafasa oleh lidah yang melemas dan jatuh ke belakang, maka aturlah posisi tidur anda(contohlah cara tidur Rasulullah yaitu posisi badan miring ke kanan). Jangan tidur telentang karena akan menyebabkan lidah yang lemas rebah ke belakang.

Belakangan ini banyak ditawarkan produk-produk untuk menangkal dengkur berupa ‘obat luar’ seperti bantal berharga ratusan ribu- dan obat telan. Obat telan yang belakangan dikatakan didatangkan dari AS, meskipun terbuat dari bahan alami, tapi harus hati-hati pemakaiannya.

Hal terpenting, anda perlu mencari penyebab dengkuran. Apakah karena tersumbatnya saluran pernafasan akibat posisi tidur, atau karena hal-hal lain. Perlu juga diketahui obat itu memiliki efek samping atau tidak.

Selain itu, dalam mengkonsumsinya, perlu ditanyakan cara pakainya agar lebih efektif. Konon obat yang dimasukkan dalam kategori food supplement ini baru efektif apabila dimakan 30-60 menit menjelang tidur malam. Untuk orang dengan berat badan di bawah 55 kg, cukup menelan 1 pil sehari. Tetapi, untuk yang beratnya di atas 55 kg, perlu 2 pil sehari. Dampak pil itu akan terlihat setelah dimakan 14-21 hari. Amat dianjurkan untuk menjauhi makanan berlemak kira-kira 4 jam sebelum tidur.

Jadi kalau anda mendengkur, deteksi dulu apakah itu jenis yang ringan atau yang berat. Setelah itu perhatikan gejalanya dab baru mencoba langkah-langkah penyembuhannya. Sebaiknya anda berkonsultasi dengan dokter untuk memperoleh solusi terbaik.

Sumber : Majalah Nikah edisi 10/I/2002, hal 44-46

7 thoughts on “Mendengkur dan Kesehatan

  1. assalamualaikum, wr wb
    terima kasih atas infonya..ijin untuk meng copynya yah…
    wassalam

    wa’alaikumsalam….silahkan mba!

  2. suami saya biasanya memang mendengkur…tp semakin parah setelah dia merokok..sekarang dia sudah berhenti merokok, tp kok dengkurannya spt ada dahaknya yaaa tx

  3. Mendengkur terjd pd aku skitar 2 thn lalu smpai skrang….., aku perokok 1 sd 2 bungkus mild per hari sejak di bangku sma, usiaku 44thun, apakah dengkur dan akibatnya bisa dapat di hilangkan, sehingga aku jd sehat,tksh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s